Latest Post

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rumah Ketua Pilkades, Dikirimi Bom Sebesar Batang Pohon Kelapa

Written By Unknown on Kamis, 20 Juni 2013 | 06.05

Cerita dari Mumbulsari- Kawan, sejumlah warga dusun Tempuran Desa Kawangrejo Mumbulsari, pagi hari ini digegerkan dengan temuan Bom rakitan, dirumah ketua paniti Pilkades, Rosidi. Bom setinggi 45 cm dengan diameter 18 cm itu, ditemukan pertama kali oleh istri Rosidi, yang bernama Barokah.

Sekitar pukul 7 pagi dua hari yang lalu kawan, Barokah baru pulang mengantarkan kedua anaknya, yang masih sekolah di bangku SMP dan SD. Awalnya, Barokah yang melihat bom sebesar batang pohon kelapa itu, mengira bibit rambutan pesanan suaminya. Namun betapa kagetnya Barokah kawan, di barang yang diduga bibit rambutan itu, ternyata terdapat sumbu dan korek di ujungnya.

Melihat hal tersebut, Barokah akhirnya memberi tahu suaminya, yang saat itu masih tidur. Suami Barokah pun akhirnya, mengabarkan temuannya ke adiknya, yang kemudian langsung dilaporkan ke pihak Mapolsek Mumbulsari.

Menurut Rosidi, beberapa hari belakangan ini dirinya sering mendapatkan teror sms dari nomer yang tidak dikenalnya. Apalagi kawan, sms tersebut sering diterimanya, pasca pilkades yang dia laksanakan, beberapa waktu lalu. "Saya sering dapat sms ancaman. Bahkan waktu itu, smsnya berbungi 'jangan enak-enak tidur kamu' dengan berbahasa madura," ceritanya kawan.

Saat ini kawan, pihak Polres Jember hanya mampu melakukan sterilisasi ditempat kejadian perkara. Namun, beberapa waktu berikutnya, tim Jihandak Brimob tiba di TKP dari Bondowoso, datang menjinakan Bom tersebut kawan. Begitu kawan, cerita tentang Bom di rumah ketua Pilkades Kawangrejo. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Demo Penolakan Kenaikan BBM Berakhir Ricuh

Written By Unknown on Selasa, 18 Juni 2013 | 05.38


Cerita dari Jember- Kawan, aksi penolakan kenaikan harga BBM, kembali digelar sejumlah aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember, Senin kemarin (17/6) berakhir ricuh. Sempat terjadi aksi saling pukul kawan, anatara aktivis mahasiswa itu, dengan sejumlah petugas kepolisian, yang melakukan penjagaan.

Awalnya kawan, sekitar pukul 10.00 wib, puluhan aktivis GMNI yang tiba di bundaran DPRD Jember, menggelar orasi penolakan kenaikan BBM, secara bergantian. Dalam orasinya kawan, mereka menolak dengan tegas, sikap pemerintah yang hendak menaikan harga BBM.

Bagi demonstran kawan, sikap tersebut dianggap kebijakan yang tidak tepat. sebab katanya, pemerintah seharusnya berani melakukan nasionalisasi aset Negara, yang sejatinya sebagai sumber penghasil minyak. “Kita bisa hidp mandiri, jika aset penghasilminya milik negara, bisa kita rampas dari tangan asing,” ungkap Ridho saat melakukan orasi.

Bukan hanya orasi saja yang mereka lakukan kawan. Aktivis mahasiswa yang berlandaskan ajaran marhaenisme itu, sempat membakar tikus diatas api, dari ban bekas yang mereka baker. Sesekali terdengar, mereka menyebut negara ini telah menjadi 'Republik tikus'.

Aksi puluhan mahasiswa itu, berlanjut dengan pemasangan baliho raksasa, bertuliskan "BBM Naik : Revolusi !!!!...", tepat diatas air mancur bundaran DPRD Jember. Namun karena kesulitan memasang baliho berukuran 3X5 meter itu kawan, akhirnya mereka memasang baliho tersebut diatas papan nama DPRD.

Puluhan aktivis mahasiswa itu pun kawan, tampak terlihat tidak pernah kehabisan variant aksinya. Bahkan, tidak lama dari pemasangan baliho tersebut, terlihat sedikitnya delapan demonstran, melakukan pelemparan telur kearah gedung dewan. Alhasil, mobil dinas sejumlah pejabat pun, yang terparkir tepat didepan pintu masuk gedung dewan itu, terkena lemparan telur.

Bahkan menariknya kawan, mobil bernomer polisi P 1701 BS, yang diduga mobil pribadi Bupati MZA Djalal, dan mobil dinas wakil bupati Kusen Andalas, juga terkena lemparan delapan butir telur itu.
Seolah tidak puas dengan aksi lempar telur, yang mereka lakukan dari luar gedung dewan itu. Akhirnya, puluhan aktivis organisasi yang berdiri sejak tahun 1954 itu, merangsek masuk kedalam gedung dewan.

Bekas tempat parkir, kedua mobil milik Bupati Jember dan wakilnya, yang sebelumnya terkena lemparan telur itu kawan, dijadikan mereka tempat menyuarakan aksinya. Bahkan sebagian dari mereka, melakukan aksi treatrikal, dengan melepaskan seekor tikus, yang sebelumnya mereka kurung didalam sangkar.

Saat sejumlah aktivis mulai mengejar tikus, dengan melemparinya dengan telur dan tepung. Tidak mereka duga kawan, lemparan telurnya itu mengenai beberapa polisi, yang sedang mengawal aksi mereka. Karena merasa diserang demonstran, akhir sejumlah polisi itu pun, menghentikan aksi lempar telur dan tepung tersebut.

Sejumlah demonstran yang tampak begitu menghayati, perannya pada aksi tratrikl tersebut kawan, tidak menghiraukan permintan polisi itu. Akhirnya secara paksa kawan, petugas kepolisian yang melakukan pagar betis itu, menyerang sejumlah demonstran dengan tendangan dan bogem mentah, yang diarahkan ke wajah dan tubuh demonstran.

Karena merasa diserang, sejumlah aktivis GMNI itu pun memberikan perlawanan, dengan melawan pukulan sejumlah petugas kepolisian itu. “Kami diserang duluan, ya kami lawan saja. Bahkan salah satu polisi itu, menyebut kami PKI,” ujar Ridho.

Aksi saling pukul itu berjalan cukup lama kawan, sebab keduanya tidak bisa saling menenangkan kelompoknya. Namun, saat sekretaris GMNI Jember, Wibi, mengambil alih komando aksi, akhirnya sejumlah aktivis GMNI mulai tenang.

Dengan memegang pengeras suara, Wibi dan sejumlah aktivis GMNI lainnya, meminta anggota DPRD Jember, menemui sejumlah demonstran, untuk menandatangani pernyataan sikap penolakan kenaikan BBM itu. Namun, hanya ada sebagian anggota DPRD saja, yang bersedia menandatangani pernyatan sikap tersebut. (Ulal)

Reporter : Ulal Asmaul Khusna
Editor     : Ruvi Bela Negara

Buruh Kebun Tewas Saat Mencangkul


Cerita dari Jember- Kawan, seorang buruh kebun tembakau milik PTPN 10 Kertosari, Senin kemarin (17/6), ditemukan tewas ditempat kerjanya, yang ada di kebun Dusun Bindung, Pecoro Rambipuji. Korban yang bernama Safi'i, meninggal saat mencangkul kebun tembakau itu.

Seperti hari biasanya kawan, sejumlah buruh kebun tembakau melakukan pekerjaannya. Pria yang diperkirakan berusia 50 tahun, bernama safi'i mencangkul, bagian tengah kebun tersebut. Namun sekitar pukul 15.30 wib, dia ditemukan tertelungkuk tak bernyawa, sambil memegang cangkulnya.

Menurut mandor kebun tembakau itu kawan, korban awal di temukan oleh rekan kerjanya yang bernama pak Mut. Melihat korban kaku tak bernyawa kawan, pak Mut tidak berani memegang tubuh korban, namun dia hanya memanggil rekan kerja lainnya, yang tidak jauh dari posisi korban. Bahkan, dia juga memanggil anak korban, yang juga kerja di kebun itu. "Yang pertama menemukan korban pak Mut," tutur Rofik.

Anak korban yang bernama Rifak'i, mengaku sempat memijat korban dan melumuri korban, dengan minyak kayu putih kawan. Namun pertolongan Rifak,i itu, tidak mampu menyelamatkan ayahnya itu.

Rifak'i juga mengungkapkan, ayahnya yang berangkat kerja bersamanya itu, tidak mengeluh sakit padanya. "Bapak saya tidak mengeluh sakit apa pun. Dia sehat kok, berangkat ke kebun saja saya bonceng," ujarnya.

korban yang sudah tak bernyawa itu kawan, akhirnya dibawa pihak kebun bersama anak korban, ke puskesmas Rambipuji untuk dilakukan Outopsi. Karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, korban pun akhirnya pun langsung dibawah kerumah duka, yang ada di Dusun Gumuksari, Desa Curahmalang, Rambipuji. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Tolak Kenaikan BBM Dengan Aksi Patung

Written By Unknown on Minggu, 16 Juni 2013 | 07.30

Cerita dari Jember- Kawan, ada lima aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember, sejak siang hari ini, menggelar aksi patung di bundaran DPRD Jember. Aksi diam diri  itu rencananya akan digelar nonstop hingga besok kawan. Aksi tersebut mereka gelar sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM oleh pemerintah.

Dengan mewarnai sekujur tubuhnya menggunakan cat putih, aktivis itu berdiri di sekitar bundaran DPRD Jember. Tidak seperti aksi biasanya kawan, aktivis itu hanya berdiam sambil memegang poster, yang bertuliskan tuntutan menolak kenaikan BBM.

Disetiap sudut bundaran yang tampak indah dengan air mancurnya itu kawan, sengaja dipasang sejumlah jurigen bekas BBM, yang didalamnya berisi  tikus. Kata seorang demonstran kawan, yang bernama Kunto Wibisono, tikus didalam jurigen itu menggambarkan bahwa BBM untuk rakyat, telah dirampas oleh para koruptor penghianat bangsa. "BBM kita sudah diminum para tikus itu," teriak aktivis, yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Unej itu kawan.

Selain berpatung diri, sejumlah aktivis GMNI lainnya memberikan suport pada rekannya, dengan menaminya diluar barisan. Bahkan kawan, sebagian dari mereka terlihat ikut menyebarkan pernyataan sikap, yang mereka sebarkan kepengguna jalan.

Pada surat pernyataan sikapnya itu kawan, GMNI Jember secara organisatoris, mengundang masyarakat Jember untuk bersama meramaikan jalanan dan menyerukan secara serentak mengyatakan "Tolak Kenaikan BBM dan BLSM, dan Segera Nasionalisasi Aset Bangsa".

Menurut Ridho Agastya Triwikrama, salah seorang pelaku aksi patung dan sekaligus koordinator aksi itu kawan, sempat terungkap, jika apa yang mereka lakukan itu, sebagai cerminan tidak berdayaan masyarakat atas kebijakan pemerintahnya. "Rakyat hanya bisa berdiam seperti patung. Pemerintah bersikap seperti penguasa, yang tidak peduli lagi sama rakyatnya," ujarnya.

Ridho menegaskan kawan, kebijakan menaikan BBM dengan dalih menyelamatkan perekonomian bangsa, hanya sebagai alasan yang tidak realistis. Sebab katanya kawan, fakta yang terjadi dari dampak kenaikan BBM itu, akan membuat Rakyat Miskin akan menjadi miskin.

Bukan hanya rencana menaikan BBM saja, yang mereka kritik kawan. Rencana pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), juga tidak luput dari perhatian keempatnya. Sebab katanya kawan, BLSM yang dikemas sebagai kompensasi rakyat miskin, mereka tuding hanyalah sebagai pemanis, yang tidak mendidik rakyat. "BLSM hanyalah kedok saja," ucap Ridho.

Sementara itu, aksi yang dimulai sejak pukul 11.00 wib hari ini, akan mereka gelar hingga sejumlah rekan aktivis GMNI lainnya, menjemput untuk menggelar aksi yang lebih besar. Bahkan kata Ridho kawan, kelimanya tidak akan turun dari bundaran DPRD itu, meski mereka tanpa makan dan tak menggunakan baju. "Dingin tanpa baju, tak berarti apa pun bagi kami. Rakyat akan lebih sengsara, jika BBM jadi dinaikan," ungkap Ridho. Begitu kawan, cerita tentang demo penolakan BBM dari aktivis GMNI. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

IMM Gelar Sarasehan 4 Pilar

Cerita dari Jember- Kawan, hari ini di
hall room hotel Royal Jember, IMM Korkom UMJ bersama MPR RI, menyelenggarakan Sarasehan Nasional Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Hadir dalam acara tersebut, wakil MPR RI, Drs. HM Hajriyanto Y. Thohari. M.A.

Pada pemaparannya kawan, Hajriyanto mengupas tentang kepancasilaan, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, sampai pada pembahasan tentang Bhineka Tunggal Ika. Bukan hanya itu kawan, dalam pembahasannya, Hajriyanto juga banyak membandingkan tentang kehidupan warga negara Indonesia dengan negara lain.

Menurut Hajriyanto kawan, meski negara memiliki 4 pilar yang kokoh, namun bukan berarti tidak akan pecah-belah. Sebab secara prinsip, perpecahan akan terjadi jika pilar yang telah dimiliki bangsa, dibiarkan tanpa ada penjagaan oleh warganya sendiri. Oleh karenanya, dia mengajak anak bangsa untuk selalu mengkawal 4 pilar yang dimiliki bangsa ini.

Ironisnya kawan, Hajriyanto sempat menyampaikan, jika perusak pilar tersebut sebenarnya penyelenggara negara tersebut. Hal itu dia contohkan pada budaya korupsi, yang banyak dilakukan pejabat negara. "Yang merusak pilar tersebut,  sering dilakukan penyelenggara negara. Namun, rakyat juga meniru kebiasaan buruk itu," ujarnya, sambil tersenyum dihadapan puluhan audiens.

Ahmad Rubai salah seorang anggota Komisi 8 DPR RI, yang juga pemateri menjelaskan tentang falsafah pemersatu negara, yaitu Pancasila. Dia menegaskan, kekuatan kesatuan bernegara, harus memiliki prinsip lima sila yang termaktub pada butir Pancasila.

Bukan hanya Hajriyanto dan Ahmad Rubai saja, yang berkesempatan menjadi pemateri pada hari ini kawan, dosen fakultas Hukum UMJ, Djoko Purwanto, SH, M.Hum menyinggung tentang supermasi MPR yang beralih pada supermasi konstitusi. Bahkan sejak tahun 1999, ada degradasi peran yang terjadi di MPR. Begitu kawan, cerita tentang saresan yang digelar IMM hari ini. (Ulal)

Reporter : Ulal Asmaul Khusna

Ijazah Siswa Ditahan, Anggota DPR-RI Datangi SMKN 5 Jember

Written By Unknown on Jumat, 14 Juni 2013 | 10.34

Cerita dari Jember- Kawan, kedua mantan siswa SMKN 5 Jember, mendatangi sekolahnya untuk meminta ijazahnya, yang diduganya telah ditahan pihak sekolah. Didampingi wakil ketua komisi 2 DPR-RI, kedua siswa itu ditemui langsung kepala sekolahnya.

Sudah dua tahun, ijazah Geofani dan Puput Hariyanto, ditahan SMKN 5 Jember. Sebab katanya,  keduanya harus melunasi biaya sekolahnya, yang belum dilunasinya sekitar Rp 4 juta. Keduanya mengaku, sebelumnya pernah berupaya mengambil ijazahnya itu, namun pihak sekolah mempersulit. "Saya sudah mengurusnya mas, tapi selalu dipersulit," ungkap Puput kawan.

Namun kawan, kepala sekolah SMKN 5 Jember, Rinoto menolak jika disebut talah menahan ijazah kedua muridnya itu. Dihadapan wakil ketua komisi 2 itu, Rinoto berujar jika, hanya ada kesalah pahaman saja mengenai permasalahn itu. "Kami tidak pernah menahan ijazah itu. Hanya saja, keduanya belum berkomunikasi dengan kami," ujarnya.

Bahkan kawan, kepala sekolah itu mempersilahkan keduanya segera mengambil ijazahnya, namun harus didampingi orang tuanya. "Kalau mau ambil silahkan saja, tapi harus diantar orang tuanya. Masalah biaya gampang lah, kalau punya rezeki, boleh nyicil," tambahnya.

Sementara itu, Arif Wibowo yang mendampingi keduanya, mangaku kecewa jika sekolah melakukan komerialisasi pendidikan. Sebab katanya, sekolah sebagai media mencerdaskan anak bangsa.

"Prinsipnya, sekolah tidak boleh mengkomersilkan pendidikan, apalagi berani menahan ijazah, hanya. Karena siswanya belum melunasi biaya pendidikannya tersebut," ujar Arief. Begitu kawan, cerita tentang penahanan ijazah kedua siswa itu. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Gelar Karnaval Ala JFC

Cerita dari Puger- Kawan, Kamis siang kemarin, sejumlah siswa TK Dewi Masitoh 53 Kasiyan Puger, tampak terlihan anggun dan elegan, menggunakan kostum karnaval di sepanjang jalan, yang tidak jauh dari sekolahnya itu.

Disepanjang jalan itu, sejumlah siswa yang rata-rata masih berusia 5 tahun itu, bergaya menyerupai para model Jember Fashion Carnaval (JFC). Bahkan kawan, busana yang mereka gunakan pun, juga mirip busana yang dipakai model JFC.

Bagi kepala sekolah tersebut kawan, jika acara tersebut bermaksud, agar para siswanya mulai mengenal kesenian sejak dini. Bahkan dia juga berharap kawan, agar acara tersebut bisa meningkatkan imajinasi anak didiknya, kusunya dalam seni fashion. "Kami berharap kegiatan ini menjadi pendorong siswa kami, agar memiliki kreativitas sedini mungkin," ungkapnya.

Terlihat kawan, seorang peserta karnaval bernama Putra Bagus Kara, begitu semangatnya mengikuti kegiatan tersebut, meski terik matahari begitu menyengat di siang itu. "Senang om bisa ikutan," ucapnya dengan singkat. Begitu kawan, cerita tentang karnaval ala TK Dewi Masitoh. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Lilik Niamah, Kembali Mendapatkan Jegalan PKS



JEMBER- Kawan, salah seorang legislator dari partai keadilan sejahtera (PKS) Jember, Lilik Niamah, mengaku kecewa karena tidak didaftarkan partainya, menjadi caleg pada pemilu 20014 mendatang. Padahal katanya, dia sudah mendaftarkan ikut kembali, menjadi salah seorang kontestan pada Pemilu mendatang.
Lilik Niamah, legislator yang dikenal vokal menyuarakan aspirasi konstituennya itu, tidak lagi didaftarkan oleh partai yang membawanya menjadi wakil ketua komisi B DPRD Jember. Padahal kawan, dia mengaku telah mendaftarkan kembali, namanya menjadi caleg partai keadilan sejahter (PKS).
            Sebenarnya dia tidak begitu kaget, dengan sikap partainya itu, Sebab katanya, dia sudah merasa tidak sejalan lagi, dengan pimpinan fungsionaris DPD PKS Jember.Lilik menceritakan kawan, selama dia menjadi anggota DPRD Jember empat tahun ini, ada sejumlah intruksi partainya, yang baginya tidak sesuai dengan hati nurani dan semangat perjuangan partai. Jadi memang, dia secara sengaja memilih menjadi seorang legislator yang kritis, dalam giroh membela kebenaran, untuk kesejahteraan masyarakat.
            “Saya sering di tegur oleh partai, karena sikap politik saya yang begitu keras, menolak kebatilan ketika saya harus membela rakyat,” ujar mantan aktivis dakwah kampus itu. Namun dibalik itu, ada konspirasi besar dari sejumlah fungsionaris partainya, yang tidak menghendaki Lilik maju kembali, menjadi Caleg partai pimpinan Tifatul Sembiring itu.
            Namun meski demikian kawan, Lilik akan terus berupaya, agar bisa menjadi Caleg pada Pemilu 2014, meski dari partai yang berbeda. Bahkan secara gamblang dia mengakui kawan, jika saat ini ada tiga partai lain, yang akan menjadi opsi pilihannya. Namun meski demikian, dia masih belum memastikan partai mana yang akan menjadi labuhannya itu.
            “Sudah ada tiga partai yang saya jajaki. Mungkin kalau nggak ke Gerindra yang ke PAN, atau juga bisa ke Hanura. Karena selain sudah ada kedekatan jalinan emosional, antara kami sudah ada komunikasi intens,” ungkap Lilik.
            Lilik mengungkapkan, ambisinya mencalonkan lagi menjadi Caleg, bukan karena sahwat politik yang dia miliki begitu besar, tapi karena baginya, masih ada tanggung jawab moril yang harus dia tuntaskan, digedung di mimbar perjuangan rakyat itu. Begitu kawan, cerita tentang tidak didaftarkannya, srikandi pembela rakyat asal PKS itu. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Ombudsman Nilai Kinerja Pemkab Jember Buruk

Written By Unknown on Kamis, 13 Juni 2013 | 23.22


Jember- Kawan, lembaga adhoc negara Ombudsman, menilai kinerja dinas di lingkungan pemkab Jember, buruk dalam memberikan pelayanannya. Mereka mencontohkan kawan, dinas kependudukan Jember, mengkomersialkan layananannya pada masyarakat.

Seperti yang terungkap saat Ombusdman melakukan investigasi kawan, terungkap jika dispenduk Jember menjual formulis pengurusan akte kelahiran. Padahal idealnya katanya, hal tersebut tidak dilakukan.

"Kami menemukan jika di Dispenduk Capil ada jual beli formulir Akte kelahiran anak. Padahal yang butuh masyarakatnya tertib administrasi itu negara," ungkap Agus Widiyarta kepala perwakilan Ombudsman RI perwakialan Jatim.

Yang lebih mengejutkan kawan, Ombusdman menemukan di dinas PU Cipta Karya Jember, tidak ada toilet untuk pengunjung dinas tersebut. Bagitu kawan, cerita tentang temuan Ombusman. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Peretas Situs SBY Bacakan Pembelaannya

Written By Unknown on Rabu, 12 Juni 2013 | 22.25

Cerita dari Jember- Kawan Wildan Yani Ashari, terdakwa pembobol situs Presiden SBY, tadi siang menjalani sidang di pengadilan negeri (PN) Jember. Pada agenda sidang siang itu, Wildan membacakan pembelaan (pledoi) yang diakuinya, ditulis sendiri.

Sebelum dia membacakan pledoinya kawan, dia sempat meminta maaf kepada majelis hakim, dan mengakui kesalahannya. Setelah itu, dia membacakan  pledoi yang tertulis tangan itu, tidak lebih selama 2 menit.

Dalam bacaan pledoinya yang singkat itu, terbaca penyesalannya karena telah khilaf melakukan pengrusakan situs milik orang nomer satu di Indonesia itu. Bahkan dia menegaskan, jika tidak ada tujuan khusus dari apa yang telah dia lakukan itu. "Saya memang salah, tapi saya tidak ada maksud sampai membahayakan kepentingan negara," jelasnya, saat membacakan pledoinya itu.

Bukan hanya itu kawan, permohonan keringanan hukumannya itu, mengingat karena dia masih ingin melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Bahkan yang lebih mengharukan kawan, Wildan mengungkapkan jika dia masih memiliki tanggungan ekonomi keluarga. Oleh karenanya kawan, Wildan hakim bisa membebaskannya lebih cepat dari tuntutan jaksa.

Sementara itu kawan, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Wildan dengan ancaman hukuman selama 10 bulan penjara dan denda Rp 250 ribu, dan subsider satu bulan penjara. Begitu kawan, cerita tentang sidang peretas situs SBY itu. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Sekretaris Camat Sumberbaru Nyaris Disandera Demonstran

 Cerita dari Sumberbaru- Kawan, diduga ijazah yang digunakan kades terpilih Desa Karangbayat Sumberbaru palsu, akhirnya sejumlah warga desa Karangbayat, Rabu siang (12/6), mendatangi kantor kecamatan setempat, meminta bukti persyaratan foto copy ijazah yang bersangkutan, untuk dicari tahu keabsahannya. Namun karena pihak kecamatan enggan memberikannya kawan, akhirnya warga pun menggelar demo, dengan jumlah masa yang besar.

Dengan mengendarai ratusan motor dan truk, masa mendatangi kantor kecamatan Sumberbaru. Sebelum masuk kekantor kecamatan itu, masa terlebih dahulu membuat blokade, menutup akses jalan Tanggul-Klakah. Akhirnya kawan, kemacetan pun tidak bisa dihindari.

Dari awal mereka tiba di area kantor kecamatan, masa sudah mulai terpancing emosinya. Bahkan, sekitar 15 menit dari aksi blokade jalan itu, mereka sempat terlihat mendorong pintu gerbang kantor kecamatan, yang dijaga ketat aparat kepolisian. Pihak kecamatan yang tidak mau kerusuhan terjadi, akhirnya menerima perwakilan masa untuk berdialog.

Sempat sejumlah perwakilan masa tidak mau berdialog, sebab camat setempat tidak ada di forum dialog itu. Namun karena sekretaris camat (sekcam) menyatakan sebagai representasi camatnya, akhirnya masa pun mau untuk berdialog.

Namun sayang kawan, dialog tersebut tidak mampu memenuhi tuntutan warga, meski hanya menunjukan foto copy ijazah. "Camat sudah mangkir, mereka sekongkol dengan penipu," teriak salah seorang perwakilan masa itu.

Mendengar teriakan itu kawan, akhirnya sejumlah masa yang awalnya sudah sedikit landai, langsung bertindak beringas dengan berkmaksud menyandera sekcam. Namun akhirnya, polisi bertindak cepat mengamankan sekcam itu, yang kemudian dibawa ke Mapolsek Sumberbaru.

Masa yang mengetahui sasarannya diamankan ke Polsek, langsung mengejarnya. Bahkan kawan, masa yang dihadang pagar betis petugas kepolisian, masih berusaha memasuki Mapolsek, dengan memanjat pagar. Polisi pun bertindak cepat menghalau masa.

Namun yang menarik kawan, ratusan masa itu membubarkan aksinya, setelah air hujan mengguyur kawasan sekitar Sumberbaru. Begitu kawan, cerita tentang aksi masa Karangbayat. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Tiga Warga Jadi Tersangka

Cerita dari Jember- Kawan, tiga orang warga penyegel balai desa Tutul Balung, ditetapkan menjadi tersangka oleh Polres Jember. Karena ketiganya, diduga kuat sebagai pelaku penyegelan kantor Balai Desa Tutul pada beberapa waktu lalu.

Penetapan tersangka itu diungkapkan Kasat Reskrim Polres Jember, AKP Makung Ismoyojati, pada sejumlah media kemarin. Kata Makung kawan, ketiganya secara kuat dan terbukti sebagai pelaku penyegelan tersebut. “Tiga diantaranya sudah kita tetapkan sebagai tersangka,” ujar Makung.

Kawan, ketiga tersangka tersebut antara lain Nurahmat, Muslih dan Rifa'i. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka seterah sempat menjalani pemeriksaan oleh penyidik Mapolres Jember semalaman kemarin kawan.
Ketiganya itu pun kawan, telah ditahan di Mapolres Jember untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kata Makung kawan, ketiga tersangka itu diduga melanggar pasal 170 KUHP tengtang pengrusakan terhadap barang yang dilakukan secara bersama-sama subsider 335 KUHP, tentang melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Bahkan ancaman hukumannya, selama 5 tahun enam bulan penjara.

Cerita sebelumnya kawan, ada sejumlah 13 warga Tutul ditangkap paksa oleh petugas kepolisan sektor Balung dan Polres Jember, saat beraksi di depan balai desanya itu. Namun karena 10 warga lainnya tidak cukup bukti, akhirnya 10 orang yang sempat ditahan itu, dipulangkan. “Karena tidak cukup bukti turut serta ikut melakukan penyegelan dan perusakan,” jelas Makung. Karana cerita Makung kawan, kebanyakan warga itu hanya ikut-ikutan menduduki kantor balai Desa setempat.

Bahkan kawan, beberapa warga itu memang hanya ikut memasak dan berdemo, namun tidak ikut dalam melakukan penyegelan balai desa setempat. Mereka hanya kedapatan sedang berunjukrasa menyampaikan aspirasinya kepada sejumlah instansi terkait, terutama Pemkab Jember. “Yakni terkait dengan tuntutan pilkades ulang,” jelas Makung.

Namun kawan, kelima calon kades gagal yang disampaikan Baidowi, mengungkapkan kekecewaannya atas status tersangka, yang ditetapkan kepada tiga warga Tutul itu. Sebab katanya, sejumlah warga itu, hanya menyampaikan aspirasinya yang tidak pernah dihiraukan pemerintah itu. "Itu aspirasi yang dibuat karena suara mereka, tidak diperhatikan pemerintah," ujarnya kawan.

Baidowi menceritakan, aksi penyegelan itu terjadi sehari setelah perhitinga Pilkades, setelah ada indikasi kecurangan dalam perhitungan Pilkades di desanya itu. Bahkan ceritanya, warga sempat membuka segel, karena pihak pemerintah kecamatan sempat menjajikan akan melakukan mediasi.

"Kita sempat membuka segel itu kok. Tapi karena pihak camat tidak tepat janji, jadi maklum kalau warga kecewa. Apa semua itu harus disalahkan kepada warga?, toh camatnya juga bertanggung jawab, menyelesaikan masalah ini. Jika masalah sudah clear, jangan di pinta pun, warga akan membuka segel dengan sendiri," tagasnya. Begitu kawan, cerita tentang penetapan tiga tersangka. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Rumah Warga Miskin Terbakar

Written By Unknown on Selasa, 11 Juni 2013 | 21.59

Cerita dari Jember- Kawan, sekitar jam 9 pagi ini, rumah milik keluarga miski bernama Idris, hangus terbakar di lalap si Jago Merah. Namun hingga cerita ini di tulis, belum dapat dipastikan penyebab kebakaran tersebut.

Rumah berbilik bambu yang ada di RT/RW: 2/28, kelurahan Tegal Besar Kaliwates itu, hangus tak berbekas kawan. Sebab saat kebakaran terjadi, tidak ada satu orang pun, yang mengetahu kejadian itu. Bahkan sang pemilik, juga tidak mengetahuinya kawan.

Mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Jember, juga tidak mampu berbuat banyak. Sebab rumah berukuran kecil itu, sudah hangus sebelum mobil pemadaman tiba. Namun meski demikian, petugas pemadam kebakaran bertindak, agar kobaran api tidak menjalar kerumah lainnya.

Saat ini kawan, pemilik rumah yang ada tidak jauh dari SMA N 3 Jember itu, bingung mau tinggal dimana. Sebab, rumah kecil itu satu-satunya harta yang dia miliki. "Saya bingung mau tinggal dimana lagi mas," melas Idris.

Sekarang kawan, Idris dan keluarganya hanya berharap, agar ada kepedulian dari pemerintah kabupaten Jember, untuk memberikan solusi musibah yang dialaminya tersebut. "Saya berharap ada bantuan mas. Mau tinggal dimana lagi saya dan keluarga kalau rumah kami sudah tidak ada lagi," ungkapnya. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Penyalahgunaan Bantuan Kambing Jalin Kesra

Cerita dari Jember- Kawan, tujuan program pemberian bantuan bertajuk “Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Rakyat Bantuan Rumah Tangga Sangat Miskin” (Jalin Kesra Bantuan RTSM), yang digagas oleh Pemerintah Propinsi Jatim, melahirkan dugaan praktek penyelewengan oleh aparatur pemerintahan di tingkat bawah kawan.

Disebutkan kawan, jika program tersebut telah memberi peluang bagi sejumlah oknum tidak bertanggung jawab, untuk meraih keuntungan pribadinya. Kasus semacam tersebut kawan, juga terjadi di Lingkungan Gumuk Bago, Kelurahan Tegal Besar Kaliwates.

Bahkan di lingkungan itu kawan, sejumlah warga mengeluhkan ulah oknum Kepala Lingkungan mereka, yang telah mengambil sebagian dari bantuan yang disalurkan oleh Pemerintah Provinsi Jatim itu.

Sunarto, seorang warga penerima bantuan Jalin Kesra, menceritakan kawan, jika dirinya dan beberapa warga Lingkungan Gumuk Bago sejumlah 12 orang, pada Hari Kamis lalu, diminta untuk mendatangi Kantor Kelurahan Tegal Besar, untuk menerima bantuan Program Jalin Kesra itu. Dia pun, di beri 2 ekor kambing betina dan seekor kambing jantan.

Selanjutnya kawan, mereka membawa pulang ketiga ekor kambing itu, ke rumahnya masing-masing. Namun pada malam harinya, sekitar pukul 10 malam, oknum Kepala Lingkungan itu bersama salah satu Ketua RT di lingkungannya, dan seorang pendampingnya, mendatangi rumah warga penerima bantuan itu.

Ketiga orang itu kawan, meminta jatah seekor Kambing betina dari masing-masing warga, dengan alasan akan dipergunakan untuk biaya pembangunan plengsengan dan memperbaiki jalan. Bahkan, oknum Kepala Lingkungan itu meminta secara terang-terangan, kambing itu dengan dalih sebagai haknya.

Tidak hanya itu kawan, warga juga diminta agar bersedia menjual kambingnya itu kepada kepala oknum Kepala Lingkungan tersebut. Dengan alasan, jika dipelihara sendiri, maka terlalu besar resiko kematiannya. Sebab selama ini kata oknum tersebut, kambing tersebut harus diberi makan konsentrat, bukannya rumput seperti biasanya. Akhirnya, Sunarto menjual kambingnya dengan harga Rp 250 ribu. Begitu kawan, cerita  tentang penyimpangan bantuan kambing itu. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Truk Disita, Ajak LSM Demo Kantor Leasing

Cerita dari Jember- Kawan, ratusan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Peduli Rakyat (FPR), yang bermarkas di Desa Nogosari Rambipuji, kemarin siang (11/6), mendatangi kantor Multindo Auto Finance. Kedatangan ratusan masa itu memprotes tindakan debt collector suruhan perusahaan tersebut kawan, karena telah merampas truk kreditan, milik kedua anggotanya.

Sebelum tiba di kantor pembiayaan kredit mobil bekas itu kawan, sejumlah masa itu menggelar konvoi dengan mengendarai ratusan motornya, menuju kantor Multindo, yang ada di jalan Dharma Wangsa, Perukoan Graha wijaya Jubung Sukorambi.

Setiba di kantor berlantai dua itu, sejumlah masa LSM langsung berbaris rapi, dengan membentangkan poster yang mereka bawa, sembari menyuarakan tuntutannya, dengan pengeras suara yang mereka bawa. Berulang kali terdengar seruan, untuk membubarkan perusahaan tersebut. “Bubarkan Multindo, karena telah menyengsarakan rakyat,” teriak ratusan masa itu dengan kompak kawan.

Bukan hanya itu kawan, Toni salah seorang pemilik truk kreditan yang dirampas, juga berorasi diata truk yang mengangkut pengeras suara itu. Demonstran itu menuding kawan, jika pihak Multindo telah berbuar arogan, dengan menyewa preman untuk merampas truk yang dia kredit. “Undang-undang nomer 08 tahun 2011, jangan dinodai. Hilangkan tindakan premanisme,” serunya dengan lantang kawan.

Setelah teriakan tersebut disuarakan dengan bertubi-tubi, sejumlah masa itu pun akhirnya berusaha menerobos, barisan petugas kepolisian yang mengamankan jalannya aksi itu kawan. Akhirnya, sempat terjadi aksi saling dorong, antara polisi dengan anggota LSM itu, yang hendak masuk ke ruangan kantor Multindo itu.

Namun, setelah pihak managemen Multindo, mau menemui perwakilan masa LSM, untuk berunding membahas permasalahan yang mereka tuntut itu kawan, akhirnya aksi dorong tersebut berhenti. Bahkan, Toni salah seorang pemilik truk yang dirampas itu, terliht ikut memasuki ruang perundingan itu.

Difasilitasi oleh seorang anggota keplisian kawan, perundingn antara pihak Multindo dengan LSM dan korban perampasan, akhirnya kedua belah pihak itu, menemukan solusi permasalahannya. “Saya akan upayakan, agar truk yang telah kami amankan itu, untuk diserahkan kembali ke Pak Toni. Tapi saya minta, pak Toni menulis testimoni mengenai seluruh alur cerita secara detail, mengenai permasalahan truk kreditannya itu,” Murdiyono, koordinator lima cabang Multindo, saat menemui sejumlah masa.

Sementara itu kawan, seuasai perundingan dengan perwakilan anggota LSM, Murdiyanto mengelak tudingan yang dilontarkan ke pihaknya. Sebab katanya kawan, proses penyitaan truk milik koordinator LSM itu, sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Bahkan dia menambahkan, jika Toni telah terlambat menyetorkan cicilan kreditan bulanannya. “Kami sudah sesuai prosedural,” ucapnya dengan tegas. Begitu kawan, cerita tentang demo di Multindo. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Mabuk, Pemuda Bantai Empat Nenek

Cerita daru Mumbulsari- Kawan, Sejumlah warga RT/RW: 5/2, Dusun Peji Desa Lengkong Mumbulsari, Senin malam kemarin (10/6), digegerkan dengan ulah pemuda bernama Abu Rahmad. Sebab kawan, pria berusia 25 tahun itu, membantai empat orang nenek secara membabibuta, dengaan kapak pembelah kayu itu.

Awalnya kawan, sejumlah lima orang perempuan tetangga pelaku, seperti biasanya menumpang nonton sinetron dipelataran rumah orang tua pelaku. Kira-kira jam 18.30 wib kawan, pelaku dengan keadaan mabuk itu, tiba-tiba datang dengan membawa kapak. Tanpa basa-basi, dia pun langsung mengayunkan kapaknya itu, kearah kepala korban yang bernama buk Awe.

Buk Kur yang duduk di sebelah Buk Awe, menjadi sasaran kedua amarah pelaku. Tidak selesai disana kawan, Buk Sadri dan Muani menjadi korban berikutnya, yang akhirnya harus jatuh dengan simbahan darah.

Melihat keempat temannya dibantai oleh pelaku, buk Hani yang duduk tepat di pintu toko milik keluarga pelaku, langsung lari kedalam toko itu dan menutup pintu toko tersebut.
"Kejadiannya cepat pak. Kami pas lagi asik-asiknya nonton sinetron, kok langsung terdengar jeritan buk Awe yang ngomong ampun-ampun. Saya noleh, ternyata Abu ngamuk sambil bawa kapak. Langsung saja saya merangkak masuk, ketoko ibunya Abu," ungkap Hani korban selamat itu kawan.

Hani mengaku tidak sempat diapa-apakan pelaku kawan, karena dia keburu kabur sebelum pelaku membantainya. Namun diakuinya kawan, jika pelaku sempat memburu dia, meski pintu toko tempat dia bersembunyi, telah dia tutup dengan rapat.

Melihat keempat korbannya tidak berdaya lagi kawan, pelaku langsung kabur meninggalkan kapak, di lokasi tempat kejadian perkara. Bahkan, kakak kandung pelaku yang bernama Fatimah, sempat berteriak dan minta pelaku ditangkap. "Setelah adik saya berbuat seperti itu, langsung saya teriak minta tolong warga, untuk menangkap adik saya itu pak," ujarnyanya.

Tidak lama kemudian kawan, pelaku ditangkap sejumlah warga, tidak jauh dari lokasi pembantaian itu. Warga yang mulai kesal, sempat menghadiahkan bogem mentah, sebelum pelaku diserahkan ke kepala dusun setempat.

Sementara itu kawan, keempat korban yang terluka parah dibagian kepalanya itu, setelah mendapatkan perwatan dari Puskesmas Mumbulsari, akhirnya dirujuk ke RSD Soebandi Jember. Keempatnya yang terlihat kritis itu, langsung mendapatkan perawatan di ruang IGD rumah sakit milik Pemerintah tersebut. Begitu kawan, cerita tentang pembantaian di Mumbulsari. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

The Shof Opening Aston Jember

Written By Unknown on Senin, 10 Juni 2013 | 07.24


Cerita dari Jember- Kawan, siang hari ini (10/6), hotel bintang empat yang ada di jalan Sentot Prawirodirjo Jember, telah di Soft Opening. Pada kegiatan itu kawan, sejumlah pejabat dan pengusaha hadir di Confrenece Center, hotel yang bernama Aston Jember itu.

Bahkan kawan, sebelum soft opening digelar, sejumlah undangan yang hadir, sempat disuguhi tarian tradisional jember, yang diberi berjudul Lenggang Jember.

Budi Wahjono general manager (GM) Jember menceritakan kawan, sejak bulan maret 2012 yang lalu, hotel Aston yang ke 23 ini, resmi dibangun di Jember. Namun katanya, meski hari ini telah di Soft Opening, namun grand opening hotel termewah di Jember itu, masih akan di gelar pada bulan Agustus mendatang.

Beni menambahkan ceritanya kawan, jika hotel yang berlantai tujuh itu, akan ada sebanyak 152 kamar hotel dan suite, yang dilengkapi dengan fasilitas istimewa. Bahkan katanya kawan, selama soft opening ini, pihak hotel akan memberikan diskon hingga 50 persen.

Beni, selaku owner Hotel Aston Jember menambahkan cerita dari Budi Wahjono, jika pihaknya akan berkomitmen menjaga sinergiitasnya, dengan seluruh komponen kabupaten Jember.

Bahkan cerita yang terakhir kawan, sebelum acara di Confrence Center dimulai, pihak hotel Aston mengundang sejumlah wartawan untuk konfrensi pers, di caffe yang ada di lantai dua hotelnya itu. Begitu kawan, cerita tentang Soft Opening Aston Jember hari ini. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

Situasi Mandiku, Masih Mencekam Kawan...

Cerita dari Tempurejo- Kawan, paska aksi pembakaran rumah dinas KRPH Mandiku, serta pembabatan lahan tanaman sengon pada beberapa waktu lalu. Kini, situasi di Dusun Mandiku Desa Sidodadi Tempurejo, masih memanas. Bahkan kawan, beredar isu, jika saat ini ada pengurusakan tanaman lagi, di lahan milik Perhutani itu.

Cerita mulai berkembang kawan, jika dilahan petak 4 dan 6, puluhan pohon sengon dan mahoninya, telah di babati oleh orang tidak dikenal. Cerita pembabatan itu katanya, mulai merebak setelah mereka mendengar, jila pasukan Brimob mulai ditarik dari lokasi kejadian.

Namun meski pasukan Brimob berjumlah 100 personil, sudah ditarik ke markasnya yang ada di Bondowoso. Namun masih terlihat sejumlah petugas kepolisian Polres Jember, masih tetap berjaga bersiapa di beberapa titik rawan konflok.

Isue situasi Mandiku yang masih mecekam itu, diperkuat oleh cerita salah seorang warga, yang tinggal di sekitar pos KRPH Mandigu itu. Meski dia tidak mau menyebutkan namanya, namun dia menceritakan isue itu dengan tegas. “Kabarnya ada lokasi hutan yang dirusak lagi mas, bahlan lokasinya di petak 4 dan 6 yang lokasi jauh mas,” ceritanya seperti itu kawan.

Secara detail kawan, lokasi di petak 4 dan 6 itu, ada sekitar 3 hingga 4 km dari titik terluar perumahan warga. Selain jauh, cerita dari warga itu kawan, lokasi tanahnya juga bertebing dan cukup miring. "Kami Warga se masih menunggu kabar dari perhutani dulu tentang kabar itu mas, karena lokasinya yang jauh," ungkapnya. Sementara begitu kawan, cerita tentang kondisi di Mandiku. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara.

Kepala Dinsos Bantu Warga Miskin

Written By Unknown on Minggu, 09 Juni 2013 | 08.49

Cerita Jember- Kawan, setelah mendapat cerita dari sejumlah orang, jika ada seorang wanita dengan empat orang anak, hidup dibawah garis kemiskinan, akhirnya kepala dinas sosial (Dinsos) Jember, Eko Heru Sunarso turun tangan.

Sabtu sore ini (9/6), bersama camat Patrang dan Lurah Jember Lor, Heru mendatangi rumah Wakik, keluarga miskin itu, untuk membantu sekolah ketiga anaknya, dan menanggung biaya persalinan ibu dengan empat orang anak itu.

Dengan mengendarai mobil dinasnya itu kawan, Heru beserta rombongannya tersebut, mendatangi rumah tumpangan Watik, yang ada di gang IV jalan Wijaya Kusuma Jember. Setiba dirumah bernomer 20 itu, Heru langsung menggendong anak keempat Watik, yang bernama Laura.
Watik yang saat itu memakai kaos berwarna putih, merasa biasa saja dengan kedatangan rombongan itu. Sebab Watik menduga kawan, rombongan itu sama seperti donatur lainnya. "Maaf pak, saya tidak tahu kalau bapak dari Dinsos," ujar Watik kepada Heru.

Perbincangan penuh keakraban antara Watik dan rombongan itu, mulai terasa pada sore kemarin. Namun akhirnya, ketika ketua RT dilingkungan rumah Watik, datang menghampiri rumah itu, dengan memberikan penjelasan, status kependudukan Watik dan empat anaknya. Akhirnya, sempat terjadi suasan yang tidak mengenakan kawan.

“Saya ingin meluruskan pak, jika Watik ini sebenarnya bukan masuk dalam warga kami. Sebab dia masih belum mengurus surat pindah dan tidak memiliki KK (kartu keluarga). Jadi memang, dia belum kami beri beras raskin,” cerita Selamet, ketua RT setempat.

Sebenarnya kata ketua RT tersebut, kehidupan keluarga Watik semakin susah, setelah suaminya pergi meninggalkannya, dengan perempuan lain pada beberapa waktu lalu. “Suaminya ini nikah lagi pak. Bahkan dulu istrinya dibawah kerumah ini, dan tinggal satu atap dengan Watik dan anak-anakny,”, ungkap Selamet.

Dihadapan ketua RT dan keluarga Watik, Heru bersedia membiayai sekolah ketiga anak Watuk, sekaligus memberikan jalan, agar persalinan kandungan Watik yang semakin membesar, bisa dibiayai pemerintah. “Kami ini dapat perintah dari bapak bupati MZA Djalal, untuk membantu ibu Watik Jadi saya harap, ibu memaklumi itikat kami ini,” tutur Heru pada Watik.

Mendengar pernyataan dari orang nomer satu, di lingkungan Dinsos Jember itu, rona wajah ibu dengan empat orang anak itu, terlihat bahagia. Akhirnya, Watik pun hanya bisa berucap terimakasih, pada mantan camat Wuluhan itu. “Tolong sampaikan ke pak bupati pak, saya ucapkan terimakasih,” ujar perempuan berusia 30 tahun itu.

Anang Supriyanto, Lurah Jember Lor mengungkapkan kawan, jika Watik secara administratif, memang masih belum tercatat sebagai  penduduk Jember Lor, seperti pada alamat rumah yang ditempatinya.Jadi katanya, Watik memang tidak memiliki hak, untuk mendapatkan jatah bantuan sosial, seperti beras Raskin dan sebagainya.

Namun setelah mendapatkan pernyataan jika Watik berniat mengurusi kewajiban administratif, akhirnya, Lurah dengan murah senyum itu, bersedia memfasilitasi Watik. “Ibu Wtik ini mengakui jika masih belum punya KK. Jadi ya jelas, dia tidak berhak menerima bantuan sosial dari pemerintah,” ungkapnya.

Sementara itu, Ruslan Abdul Gani, Camat Patrang bersedia membantu mendaftarkan kedua anak Watik, yang sempat putus sekolah tersebut. Bahkan dia akan memberikan seragam, untuk sekolah anak Watik tersebut. “Saya membantu semampunya saja mas. Ini malah kita akan mintakan sumbangan kepada kepala dinas lainnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Ruslan menambahkan, meski pihaknya telah sanggup membantu keluarga Watik. Namun dia masih berharap, ada sumbangsih bantuan dari masyarakat lainnya. “Permasalahan seperti bu Watik ini tanggung jawab kita bersama. Jadi jika ada masyarakat yang bernasib seperti bu Watik ini, mari kita ringankan bebannya bersama,” ujarny. Begitu kawan, cerita tentang kunjungan Kepala Dinsos Jember. (Ruv)

Reporter : Ruvi Bela Negara

FGD Partai NasDem, Berlangsung Sukses


Cerita Jember- Kawan, langkah stategis untuk meraih kemenangan Pemilu 2014, kembali dilakukan oleh DPD Partai NasDem Jember. Setelah merangkul ribuan pensilat Karsikuta Balung, menjadi bagian dari partai tersebut. Sabtu malam kemarin (8/6), NasDem Jember menggelar  fokus group diskusi (FGD), di gedung B Pusdiklat Yabina Jember.

Pada FGD yang di mulai sejak pukul 7 malam itu kawan, membuat sejumlah caleg partai bentukan Surya Paloh itu, terlihat cukup antusias, mendiskusikan strategi dan taktik pemenangan, yang telah mereka gagas sebelumnya.

Dihadiri langsung oleh Ketua OKK DPW Partai NasDem Jawa Timur, Dr Rudi Sapoelete, SH, MH, semakin membut suasana diskusi semakin semarak, pada malam itu. Bahkan dari sejumlah caleg NasDem tersebut, terdengar kompak menyurakan komitmen kemenangan bersama.

Seperti yang terdengar tegas diruang itu kawan, Rudi Sapoelete menyerukan dengan lantang, jika antar Caleg Nasdem, harus kompak dan melarang untuk saling serang. "Seluruh caleg partai NasDem ini, wajib dan bertanggung jawab memenangkan partai. Jadi, marilah bekerjasama tanpa saling serang, agar kita bisa mewujudkan restorasi," serunya yang disambut aplous oleh sejumlah calegnya tersebut.

Ketua DPD NasDem dan sekretarisnya, Purwanto WK, saat duduk diantara Ketua OKK DPW Partai NasDem Jawa Timur itu, menceritakan kawan, jika FGD itu bermaksud agar, ada saling tukar pikiran strategis, mengenai taktik untuk memenangan pemilu tersebut. Bahkan ketua NasDem itu kawan, menegaskan jika partainya tersebut, selalu berkomitmen untuk menunjukan kebersamaan dan kekompakan, layaknya seperti yang ada di dalam bingkai keluarga.

"Kami tegaskan, jika Partai NasDem bukan hanya berjagon Restorasi. Namun dalam mengimplementasikan setiap kegiatan partai, kami selalu menampilkan semangat perubahan," ungkap ketua NasDem Jember, Moch Eksan. Begitu kawan, cerita hari ini. (Ruv)

Cerita dari Masyarakat

All Cerita »

News

All News »

iklan

iklan

 
Support : Ensiklopediakku | CeritaJember
Copyright © 2013. Cerita Jember - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by CeritaJember
Proudly powered by Ensiklopediakku